Bunda

“kasih ibu, kepada beta
Tak terkira sepanjang masa..
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Bagaiii sangg suryaa menyinari dunia…!!!!!”

Yaa, begitulah sebait sair lagu yang sangat sering kita dengar semasa kecil..

Ibu,…
Beliau adalah seorang wanita yang rapuh yang termakan waktu.
Beliau adalah seorang manusia yang diciptakan dengan penuh kasih sayang di dalam jiwa nya.

Saat ku mendengar cerita usang dari sanak saudara ku, aku ingin meneteskan air mata ku.
Kisah yang begitu panjang, kisah yang penuh rintangan,..

Selama lebih dari 9 bulan aku tertidur pulas di dalam rahim nya. Aku dijaganya, dirawat dengan penuh kasih sayang.
Tak sedikit pun kata lelah yang terlontar dari mulut manis nya itu.
Berat mengandung bukan lah halangan,.
Beliau terus berjalan, berjuang menunggu kelahiran sang buah hati pertamanya..
Sholawat nabi yang begitu indah sering beliau nyanyikan untuk menenangkan jiwa ku yang belum tersentuh manusia.

26 mei 1993.
Tepat sekitar pukul 07. 18 pagi aku terlahirkan.
Tapi menunggu kelahiran ku bukan lah perkara mudah. Ber jam jam lama nya bunda menahan sakit yyang tak terkira.
Keringat peluh kesah mengalir sebagai kisah.
Nyawa & jiwa adalah taruhan nya.

Saat diriku terlahir didunia, kumandang adzan di kuping kanan ku terdengar begitu indah.
Aku dipeluk erat oleh bunda. Wajah yang lemas karna lelah berubah total menjadi cerah merona saat pertama kali menyaksikan buah hati yang talah dinantikan nya.
Seteguk ASI mengalir menjadi darah petama ku.
Aku ditimang, dipuja bagai raja.
Setiap saat beliau selalu berada disampingku.
Tak beliau izin kan seekor pun makhluk kotor menyentuh ku.

Beliau tidak pernah melihat waktu.
Kapan pun itu, jika aku butuh sebuah kehangatan & kenyamanan, beliau akan datang menemui ku.
Dingin nya malam, lelah nya badan, & ngantuk nya mata bukan lah halangan.
Mereka terus bersabar membesarkan, mendidik, & mengajar seiap apa yang aku lihat & rasakan.

Kini ku telah dewasa..
Telah mampu berdiri tanpa dipegangi.

Kini tugas mereka bukan lah terbangun di tengah dingin nya malam karna aku sepi.
Tapi mereka lebih lebih fokus pada mendidik, mengarahi, memberi gambaran atas apa yang baik yang mesti aku kerjakan di esok hari.

Mereka menaruh sejuta harapan pada diriku.
Harapan itu adalah titik awal dari impianku.

Aku adalah berry meranda.
Aku sayang pada dirimu bunda.
Akan aku buktikan kalau aku dapat mewujutkan setiap impian mu.
Karna impian mu adalah tujuanku.

Beri aku kepercayaan untuk melangkah maju.
Berilah restu mu padaku.

Miss u mama❤

bunda, kasih mu tak kan pernah ananda lupakan

Harap Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s